Postingan Populer

Senin, 05 Oktober 2015

mengurai kata ritmik dalam darbuka



Untuk memahami tentang cara menggubah pukulan darbuka menjadi pola pola pukulan yg bermakna musikal, kita memakai istilah bahasa untuk mengurai unsure unsure dalam kalimat ritmik. Unsur terkecil yang merupakan bunyi spesifik dari darbuka kita sebut SILABEL> gabungan dari minimal 3 silabel kita sebut  MOTIF> gabungan dari beberapa motif kita sebut FRASA> gabungan dari beberapa frase kita sebut KALIMAT.. 

contoh:
SILABEL pakai 4 saja DUM, TEK, KA dan SLAP Mari kita rang kaisi label tersebut pertama menjadi:

{dum  dum  tek}

Maka itu disebut  motif.  Jika motif  tersebut kita kembangkan lagi jadi :

{dum  dum  Tek  Teka  Tek   Slap . . }

Ini disebut Frase,  jika frase itu dirangkaikan dengan frase baru yg ini:

{dum  dum  tek  teka  dum . . . }

Maka bunyinya jadi :

[{dum  dum  Tek  Teka  Tek   Slap . .   dum  dum  Tek  Teka  dum . . .}]

Maka lengkaplah pola tersebut menjadi KALIMAT  RITMIK

ket: kalimat tersebut terdiri dari 16 ketuk atau 16 pulsa, tanda titik tetap dihitung sesuai tempo namun tidak dibunyikan

Dalami lmu bahasa kita mengenal adanya tanda baca dan spasi. Yang tergolong tanda baca antara lain titik dan koma. "Koma"  biasa ditandai oleh slap atau tek pada penghujung frase dan jenis frase yg diakhiri dengan dum mengisyaratkan  "titik".

Spasi adalah tanda diam, bayangkan jika dalam sebuah tulisan tidak ada spasi, tulisan tersebut akan sulit  dimengerti. Prakteknya pada kalimat ritmik yg tidak ada tanda diam cenderung tidak punya makna musikal, mirip seperti  org meracau yang bicara tanpa ada juntrungannya.. namun ada pengecualian khusus untuk pemahaman tingkat lanjut bahwa sederetan panjang kalimat ritem bias saja tanpa tanda diam, namun "tanda dam" terwakili oleh bungkamnya bunyi yg rendah (seperti dum) pada frase ke-3 sebelum frase ke-4 seperti contoh pada sistem "Tala" dalam music klasik india.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar